Kaji lebih Dalam Tentang Islam, PPI Gelar Seminar Bedah Buku

Jakarta (UNAS) – Pusat Pengajian Islam Universitas Nasional (PPI UNAS) mengadakan Seminar Kajian Islam bertajuk “Rekam Jejak Islam Menusantara Keturunan Hadramauwt, Pagaruyung, Palembang, di Maluku Utara dan Banda Neira, Maluku” pada Jumat (9/3) di Ruang Seminar lantai 3 Universitas Nasional. Dalam seminar ini membahas tentang buku islam karya Drs. Saleh U Al-Haddar, M.A yang sekaligus hadir sebagai narasumber untuk memaparkan isi dari buku yang Ia tulis.

Turut hadir dalam seminar ini Warek Bidang Kemahasiswaan Dr. Zainul Djumadin, M.Si., Ketua PPI Dr. Fachruddin Mangunjaya, M.Si., Dr. Firdaus Syam, M.A., dan Prof. Dr. Umar Basalim DES. Dalam paparannya Saleh menyatakan buku yang Ia tulis menjelaskan perkembangan islam dari semenjak zaman nabi hingga sekarang yang terdiri dari 600 halaman. Selain itu, juga menjelaskan permasalahan kemunduran hingga mencapai kemajuan agama islam.

Penulisan buku ini sebagai wujud kajian tentang tulisan-tulisan islam yang banyak mengalami permasalahan mulai dari menginisiasi hasil karya orang lain hingga plagiat dari tulisan-tulisan kuno islam. Saleh menjelaskan, perkembangan islam di nusantara perlu dikaji dari sejarah nya hingga sekarang, karena masih ada permasalahan yang terdapat di manusianya. Tambahnya, masalah yang ada ialah banyak penulis buku islam barat terdahulu maupun sekarang mengacaukan kajian islam dengan pemeluknya.

“islam tidak dapat di identifikasikan dengan sejarah muslim karena risalahnya sudah sempurna, yang perlu dikejar ialah manusianya yang menyalahi kajian-kajian islam yang sudah ada dan walaupun penulisan buku barat yang menyatakan islam dan muslim berbeda tetap saja tidak menggoyahkan kajian-kajian islam yang sudah ada,” Ungkap Saleh

Menurutnya, objektifitas dari buku yang ditulis oleh orang barat menuntut agar risalah islam dibedakan dengan sejarah muslim,  sehingga adanya pengkotak-kotakan antara islam dan muslim, padahal warisan pemikiran islam menyebutkan bahwa dalam tindakan dan ungkapan muslim adalah sebagai bagian dari islam itu sendiri.

Baca Juga :   Dekan Faperta Unas Ajak Masyarakat Bercocok Tanam Saat Pandemi Covid-19 Untuk Sehat dan Berumur Panjang

“islam dan muslim tidak dapat dipisahkan karna itu adalah satu kesatuan walaupun berbeda makna. muslim menjadi pelengkap atau mengimani dari agama islam itu sendiri,” ungkap Saleh

Sedangkan menurut Fachruddin, penulisan yang merujuk pada pengkotakan-pengkotakan antara islam dan muslim ada di penulisan barat yang hanya mencontek tulisan tulisan terdahulu tanpa adanya pencarian kebenaran.  Penulisan sebuah sejarah keagamaan harus bermakna dan objektif tanpa adanya tipuan dan mengakui hasil karya orang lain.

penulisan buku tentang islam disesuaikan dengan pemikiran islam yang berdasarkan wahyu sehingga harus dipahami karakteristik pemikiran islam. Yang terpenting pemikiran islam harus dilandasi dari satu sumber yaitu Al-Qur’an dan As-Sunnah. “penulisan buku tentang islam harus sesuai dengan Genealogi dan juga pada Al-Qur’an dan walaupun sudah sesuai masih perlu dikaji dan di diskusikan mengenai silsilah-silsilah islam dari zaman terdahulu hingga masuk ke Indonesia sampai berkembang di nusantara,” ujar Fachruddin.(*DMS)

Bagikan :

Info Mahasiswa

Related Post

FIKES UNAS SUKSES GELAR KONFERENSI INTERNASIONAL ILMU KESEHATAN KE-2 (ICHS 2024)
Berkat Daun Binahong, Mahasiswa FIKES Berhasil Mengukir Prestasi di Tingkat Nasional
EL AMRY BERMAWI PUTERA KEMBALI TERPILIH SEBAGAI REKTOR UNAS
Pererat Hubungan Indonesia dan Jepang Melalui Diskusi Mahasiswa Sastra Jepang UNAS dengan Obayashi Sacred Heart School
Sosialisasi Empat Pilar, Hadirkan Wakil MPR RI
CSERM UNAS GENCARKAN STRATEGI KONSERVASI PRIMATA DAN LINDUNGI PERUBAHAN IKLIM DI INDONESIA

Kategori Artikel

Berita Terbaru
Chat with Us!